Kalau bicara soal panjat tebing Indonesia, nama Desak Made Rita Kusuma Dewi sulit untuk dilewatkan. Atlet asal Buleleng, Bali, ini bukan cuma punya koleksi medali yang panjang. Ia juga menjadi gambaran bagaimana mimpi seorang anak dari daerah bisa tumbuh menjadi prestasi di panggung dunia.
Profil Desak Made Rita bermula dari cerita yang sebenarnya sederhana. Rita lahir di Buleleng pada 24 Januari 2001. Saat masih duduk di kelas 2 SD, ia diajak bibinya yang juga atlet panjat tebing ke Taman Kota Singaraja. Awalnya hanya ikut melihat dan mencoba memanjat. Tidak ada rencana besar di baliknya.
Namun, dari percobaan kecil itu, Rita justru menemukan olahraga yang kemudian menjadi bagian penting dalam hidupnya. Ia memilih nomor speed, disiplin yang menuntut atlet memanjat dinding secepat mungkin. Bagi Rita, tantangan mengejar waktu justru menjadi bagian paling menarik dari panjat tebing.
Anak Buleleng yang Tumbuh Bersama Panjat Tebing
Rita berasal dari Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Ia merupakan putri kedua dari I Dewa Putu Sekar dan Jro Komang Sari Artini. Keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan Rita, terutama ketika ia masih membangun karier sebagai atlet muda.
Sang ayah pernah menyambut langsung kepulangan Rita setelah Asian Games Hangzhou 2022. Momen itu memperlihatkan sisi lain seorang juara dunia: di balik sorotan podium dan bendera Merah Putih, tetap ada keluarga yang menunggu di rumah.
Rita juga dikenal cukup dekat dengan orang tuanya. Di sela kesibukan latihan maupun ketika berlibur, ia tetap menyempatkan diri berkomunikasi dengan keluarga.
Menariknya, panjat tebing bagi Rita bukan sekadar pekerjaan. Olahraga ini bermula sebagai aktivitas yang ia coba sejak kecil, kemudian berubah menjadi hobi, dan akhirnya menjadi jalan hidup.
Bahkan ketika berbicara kepada generasi muda, Rita tidak menggambarkan panjat tebing sebagai olahraga yang hanya cocok untuk atlet profesional. Pada Indonesia Sports Summit 2025, ia justru mengajak anak muda mencoba panjat tebing sebagai hobi maupun jalan menuju prestasi.
Dari Dua Emas Junior hingga Juara Dunia
Bakat Rita mulai terlihat ketika ia memasuki kompetisi junior. Pada Kejurnas Kelompok Umur 2018 di Riau, ia meraih dua medali emas, masing-masing pada nomor Speed World Record Youth A Putri dan Boulder Youth A Putri.
Setelah itu, kariernya bergerak semakin cepat.
Rita meraih emas PON XX Papua 2021 untuk Bali. Pada tahun yang sama, ia mulai tampil di Piala Dunia dan langsung menunjukkan bahwa dirinya mampu bersaing dengan pemanjat terbaik dunia.
Tahun 2022 menjadi fase penting lainnya. Rita mengoleksi medali perunggu dari seri Piala Dunia di Villars, Swiss, dan Chamonix, Prancis. Ia juga meraih perak pada Kejuaraan Asia di Seoul.
Kemudian datang tahun 2023.
Di Kejuaraan Dunia Panjat Tebing IFSC di Bern, Swiss, Rita membuat lompatan besar. Ia menaklukkan Emma Hunt di final dan menjadi juara dunia nomor speed putri dengan catatan 6,49 detik.
Gelar tersebut sekaligus membawanya mendapatkan tiket menuju Olimpiade Paris 2024. BBC bahkan memasukkan Rita dalam daftar 100 Women 2023, sebuah pengakuan yang membuat namanya semakin dikenal secara global.
Emas Asian Games dan Panggung Olimpiade
Masih pada 2023, Rita kembali menjadi sorotan ketika meraih emas nomor speed putri Asian Games Hangzhou. Ia mengalahkan wakil tuan rumah China, Deng Lijuan, dengan catatan 6,364 detik.
Medali itu bukan sekadar tambahan dalam lemari penghargaan. Rita menunjukkan bahwa dirinya mampu tampil di bawah tekanan besar, terutama ketika harus menghadapi atlet tuan rumah di hadapan publik China.
Setahun kemudian, nama Rita kembali berada di panggung terbesar olahraga dunia: Olimpiade Paris 2024.
Ia mampu mencapai babak perempat final dan finis di posisi keenam. Dalam perjalanan tersebut, Rita mencatat personal best 6,369 detik. Ia hanya terpaut sangat tipis dari Deng Lijuan dalam perebutan tiket semifinal.
Bagi seorang atlet muda, pengalaman Olimpiade tersebut menjadi bagian penting dari proses pendewasaan. Medali memang belum berhasil dibawa pulang, tetapi Rita mendapatkan pengalaman menghadapi tekanan kompetisi paling tinggi di dunia.
Tahun 2026 menjadi babak baru Desak Made Rita
Pada World Climbing Asia Championship di Meishan, China, Rita meraih medali emas sekaligus mencetak rekor Asia speed putri dengan waktu 6,07 detik.
Tidak berhenti di sana. Rita kembali menjadi juara pada World Climbing Series Krakow 2026 di Polandia. Di final, ia mencatatkan waktu 6,54 detik dan mengalahkan Natalia Kalucka.
Setelah Krakow, Rita kembali naik podium tertinggi di Chamonix, Prancis. Konsistensi tersebut memperlihatkan bahwa gelar juara dunia 2023 bukanlah kebetulan.
Pada 2026, Rita bahkan disebut sebagai atlet nomor satu dunia pada nomor speed putri. Ia juga tengah melanjutkan pendidikan S2 Pendidikan Olahraga di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), sehingga kehidupan Rita tidak hanya berputar di antara dinding panjat dan arena pertandingan.
Desak Made Rita bukan Sekadar Atlet, tapi Role Model
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Rita.
Ia tidak datang dari pusat olahraga dunia. Ia tumbuh dari Buleleng, Bali. Bahkan awal perkenalannya dengan panjat tebing terjadi di sebuah dinding panjat di taman kota.
Namun, ia membuktikan bahwa tempat seseorang memulai perjalanan tidak menentukan seberapa tinggi ia bisa melangkah.
Rita juga tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ketika berbicara kepada anak muda, ia mendorong mereka untuk tidak takut mencoba panjat tebing. Baginya, olahraga tersebut bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana: hobi. Dari hobi, kalau dijalani dengan serius, disiplin, dan konsisten, prestasi bisa mengikuti.
Inilah yang membuat prestasi Desak Made Rita menjadi menarik untuk dibicarakan bukan hanya dari jumlah medali. Di balik setiap podium ada proses panjang: latihan, rasa lelah, kekalahan, tekanan, dan keberanian untuk kembali memanjat.
Daftar Prestasi Desak Made Rita Kusuma Dewi
Beberapa pencapaian penting Rita antara lain:
- Dua emas Kejurnas Kelompok Umur 2018.
- Emas PON XX Papua 2021.
- Perunggu IFSC World Cup Villars 2022.
- Perunggu IFSC World Cup Chamonix 2022.
- Perak Kejuaraan Asia 2022.
- Juara Dunia Speed Putri 2023 di Bern, Swiss.
- Emas Asian Games Hangzhou 2022 yang berlangsung pada 2023.
- Perak IFSC World Cup Jakarta 2023.
- Perak IFSC World Cup Salt Lake City 2023.
- Tampil di Olimpiade Paris 2024 dan finis keenam.
- Juara World Cup Krakow 2025.
- Juara World Climbing Series Krakow 2026.
- Juara World Climbing Series Chamonix 2026.
- Emas Kejuaraan Asia 2026 di Meishan sekaligus rekor Asia 6,07 detik.
Desak Made Rita dari Singaraja untuk Indonesia
Mungkin tidak ada yang menyangka ketika Rita kecil mencoba memanjat dinding di Taman Kota Singaraja, aktivitas itu akan membawanya begitu jauh.
Kini, setiap kali ia berdiri di bawah dinding speed climbing, waktunya hanya beberapa detik. Tetapi perjalanan menuju titik tersebut berlangsung bertahun-tahun.
Itulah bagian paling menarik dari profil Desak Made Rita.
Ia mengajarkan bahwa menjadi hebat bukan berarti selalu menang sejak awal. Menjadi hebat berarti terus berlatih ketika belum dikenal, tetap mencoba ketika pernah kalah, dan berani memasang target yang lebih tinggi setelah berhasil mencapai satu puncak.
Dari Buleleng, Rita telah menunjukkan bahwa Indonesia punya alasan untuk bermimpi besar di dunia panjat tebing.
Dan bagi generasi muda, kisahnya memberikan pesan yang sederhana: tidak masalah dari mana kita memulai. Yang penting adalah seberapa serius kita menjalani perjalanan menuju puncak.

0 komentar:
Posting Komentar