Rabu, 14 Oktober 2026

Martha Tilaar: Kisah Pendiri Sariayu, Dari Salon Kecil hingga Membangun Kerajaan Kosmetik Indonesia

 

Martha Tilaar

Nama Martha Tilaar tidak bisa dilepaskan dari sejarah industri kecantikan modern Indonesia. Dari sebuah salon kecil di garasi, ia membangun bisnis yang kemudian berkembang menjadi Martha Tilaar Group, salah satu nama besar dalam industri kosmetik dan kecantikan nasional.

Martha Tilaar, Perempuan di Balik Besarnya Industri Kosmetik Indonesia

Martha bukan sekadar pengusaha kosmetik. Ia membawa gagasan bahwa kecantikan Indonesia memiliki identitas sendiri. Bahan alam, budaya Nusantara, tradisi perawatan tubuh dan pengetahuan modern dapat dipadukan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus budaya.

Martha Tilaar lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 4 September 1937. Ia kemudian dikenal sebagai pendiri sekaligus tokoh utama di balik perkembangan Martha Tilaar Group. Pemerintah Indonesia memberikan kepadanya Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma pada 2016 atas kontribusinya terhadap kebudayaan Indonesia. 


Masa Muda dan Pendidikan Martha Tilaar

Ketertarikan Martha terhadap dunia kecantikan sebenarnya tumbuh sejak masa kanak-kanak. Ia kemudian menempuh pendidikan di bidang pendidikan dan sejarah di IKIP Jakarta.

Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, Martha sempat menjalani profesi sebagai guru dan kemudian mengajar di almamaternya. Namun perjalanan hidupnya berubah ketika ia mengikuti suaminya, Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, ke Amerika Serikat.

Di Amerika, Martha mempelajari dunia kecantikan secara lebih serius. Ia menempuh pendidikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana. Pengalaman tersebut memberinya pengetahuan mengenai teknik kecantikan modern sekaligus membuka pandangan baru tentang bagaimana kecantikan dapat dikembangkan menjadi sebuah profesi dan bisnis.

Pendidikan tersebut menjadi bekal penting ketika Martha kembali ke Indonesia. Ia tidak sekadar ingin membuka salon. Ia melihat peluang lebih besar: membangun industri kecantikan yang memiliki karakter Indonesia. 


Memulai dari Garasi Berukuran 4 x 6 Meter

Tahun 1970 menjadi titik penting dalam perjalanan Martha Tilaar. Ia membuka salon kecantikan yang dikenal sebagai Martha Salon di kawasan Menteng, Jakarta. Awalnya tempat usaha itu sangat sederhana. Martha Tilaar Group mencatat bahwa bisnis tersebut bermula dari salon di garasi berukuran sekitar 4 x 6 meter. 

Tidak ada kemewahan dalam tahap awal tersebut. Yang ada adalah keberanian memulai dan kemampuan membaca kebutuhan pasar.

Salon itu perlahan berkembang. Pelanggan bertambah. Martha kemudian memperluas usaha dan mengembangkan pendidikan kecantikan melalui Puspita Martha, yang menjadi bagian penting dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang kecantikan.

Pengalaman dari salon membuat Martha memahami bahwa industri kecantikan bukan hanya soal menjual produk. Ada pengetahuan, keterampilan, pelayanan, pendidikan dan riset yang harus dibangun secara bersamaan.


Lahirnya Sariayu dari Kekayaan Budaya Indonesia

Titik balik berikutnya terjadi pada 1977, ketika Martha Tilaar mendirikan Sariayu. Sariayu tidak lahir hanya dari pertimbangan bisnis. Martha melakukan riset terhadap manuskrip-manuskrip kuno, termasuk referensi mengenai tradisi perawatan kecantikan perempuan Jawa dari lingkungan Keraton Yogyakarta.

Martha Tilaar Group
Dari sana muncul gagasan untuk mengembangkan produk kecantikan yang menggabungkan tradisi Indonesia, bahan alam dan teknologi modern. Inilah yang kemudian menjadi salah satu kekuatan Sariayu.

Ketika banyak produk kecantikan mengacu pada standar kecantikan dari luar negeri, Martha justru mencari identitas dari dalam negeri. Indonesia yang kaya tanaman obat, rempah, tradisi jamu dan budaya kecantikan dijadikan sumber inspirasi.

Pendekatan tersebut membuat Sariayu tidak hanya menjual kosmetik. Produk-produknya membawa cerita tentang Indonesia.


Membangun Industri, Bukan Sekadar Merek

Pendiri Martha Tilaar Group Martha Tilaar dan Henry Tilaar
Martha memahami bahwa sebuah merek tidak akan bertahan jika hanya bergantung pada popularitas pendirinya. Karena itu, bisnisnya kemudian dikembangkan menjadi industri dengan dukungan manufaktur, riset dan teknologi.

Pada 1981, Martha bersama almarhum Pranata Bernard dan Theresa Harsini Setiady mendirikan PT Martina Berto. Perusahaan tersebut kemudian memiliki fasilitas produksi modern di kawasan industri Pulogadung. Pabrik kedua dibangun pada 1986. 

Langkah ini menunjukkan perubahan besar: dari bisnis salon menjadi kelompok usaha yang memiliki kemampuan produksi sendiri. Sariayu kemudian berkembang bersama berbagai unit usaha di bawah Martha Tilaar Group.


Trend Warna Sariayu dan Identitas Indonesia

Salah satu inovasi yang menjadi ciri khas Sariayu adalah Trend Warna Sariayu. Sejak 1987, Sariayu memperkenalkan tren warna yang mengambil inspirasi dari berbagai kekayaan alam dan budaya Indonesia. Setiap tahun, tema yang diangkat berbeda.

Konsep tersebut bukan sekadar strategi pemasaran. Martha menggunakannya untuk memperkenalkan berbagai wajah Indonesia melalui industri kecantikan. Martha Tilaar Group menyebut Trend Warna Sariayu telah menjadi salah satu rujukan tata rias perempuan Indonesia sejak 1987. Dengan cara itu, kecantikan diposisikan sebagai bagian dari identitas budaya.


Martha Tilaar dan Pemberdayaan Perempuan

Pendiri Martha Tilaar Group Martha Tilaar
Kesuksesan Martha juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Ia mengembangkan berbagai program pemberdayaan perempuan melalui Martha Tilaar Group. Program tersebut mencakup pelatihan bagi perempuan penjual jamu gendong, pengembangan keterampilan perempuan di daerah pascabencana, hingga pelatihan profesional di bidang spa.

Ada pula Martha Tilaar Training Center yang diarahkan untuk meningkatkan keterampilan perempuan muda, serta Roemah Martha Tilaar di Gombong yang dikembangkan sebagai ruang pemberdayaan masyarakat. 

Bagi Martha, kecantikan tidak berhenti pada penampilan fisik. Perempuan harus memiliki kemampuan, kemandirian dan kesempatan menentukan masa depannya sendiri.


Menggabungkan Kecantikan dan Kelestarian Lingkungan

Gagasan Martha juga berkembang ke isu lingkungan. Pada 1997, Martha Tilaar Group membangun Kampoeng Djamoe Organik (KaDO) di Cikarang. Kawasan sekitar 10 hektare tersebut dikembangkan sebagai area konservasi tanaman obat, kosmetik dan aromatik khas Indonesia.

KaDO tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi. Program tersebut juga digunakan untuk memberikan pendidikan dan pelatihan kepada petani mengenai pertanian organik. 

Martha juga mengembangkan konsep Green Science, yang menggabungkan pemanfaatan bahan alami, proses produksi yang lebih ramah lingkungan dan pengembangan produk dengan memperhatikan keberlanjutan. 


Penghargaan dan Pengakuan untuk Martha Tilaar

Perjalanan panjang Martha Tilaar menghasilkan berbagai penghargaan. Di antaranya Women Leading The Way Award dari Indiana University Women's Philanthropy Council pada 2013 dan penghargaan Perekayasa Utama Kehormatan dari BPPT pada 2012.

Pada 2016, negara memberikan Bintang Budaya Parama Dharma kepada Martha Tilaar. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan terhadap kontribusinya dalam mengembangkan dan menghidupkan kembali nilai budaya Indonesia, termasuk melalui jamu dan tradisi kecantikan. 

Martha juga memperoleh gelar doktor kehormatan bidang Fashion and Artistry dari World University di Tucson, Arizona. 


Filosofi Bisnis Martha Tilaar : Disiplin, Jujur dan Ulet

Salah satu nilai yang sering dikaitkan dengan perjalanan bisnis Martha adalah prinsip “Djitu”: disiplin, jujur, inovatif/beriman, tekun dan ulet.

Prinsip tersebut menggambarkan bagaimana Martha melihat keberhasilan bukan sebagai hasil dari satu keputusan besar, tetapi dari konsistensi dalam menjalankan usaha. 

Dari garasi kecil, ia membangun salon. Dari salon, lahir merek. Dari merek, dibangun industri. Dari industri, berkembang ekosistem bisnis yang menghubungkan kecantikan, pendidikan, budaya, riset, lingkungan dan pemberdayaan perempuan.


Warisan Martha Tilaar untuk Indonesia

Warisan terbesar Martha Tilaar mungkin bukan sekadar Sariayu atau Martha Tilaar Group. Warisan terbesarnya adalah gagasan bahwa produk lokal dapat tumbuh kuat ketika memiliki identitas.

Martha Tilaar dan putrinya Wulan Tilaar


Ia menunjukkan bahwa bahan alam Indonesia tidak harus kalah dengan produk impor. Tradisi tidak selalu bertentangan dengan teknologi. Budaya bahkan dapat menjadi sumber inovasi dan kekuatan ekonomi.

Martha Tilaar juga memperlihatkan bahwa seorang pengusaha dapat membangun bisnis sekaligus membawa agenda sosial dan budaya.

Hari ini, nama Martha Tilaar tetap melekat pada perjalanan panjang industri kecantikan Indonesia. Kisahnya dimulai dari ruang kecil berukuran 4 x 6 meter. Namun dari ruang sederhana itu lahir sebuah gagasan besar: membangun kecantikan Indonesia dengan kekuatan Indonesia sendiri.


Keyword: Martha Tilaar, biografi Martha Tilaar, Sariayu Martha Tilaar, Martha Tilaar Group, pendiri Sariayu, pengusaha perempuan Indonesia, sejarah Sariayu, kosmetik Indonesia

Sabtu, 10 Oktober 2026

Biografi Arya Wedakarna: Perjalanan Hidup, Pendidikan, Karier Politik, Akademik dan Kontroversinya

 

Arya Wedakarna

Arya Wedakarna, Tokoh Bali dengan Banyak Peran

Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa merupakan salah satu tokoh Bali yang perjalanan hidupnya cukup beragam. Ia dikenal sebagai akademisi, politisi, aktivis organisasi, mantan penyiar radio, model, penyanyi, hingga tokoh yang aktif membawa isu kebudayaan dan identitas Bali ke ruang publik.

Namanya semakin dikenal secara nasional setelah terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari Bali. Kariernya di Senayan dimulai pada periode 2014–2019 dan berlanjut pada periode 2019–2024. Ia juga kembali memperoleh mandat politik untuk periode 2024–2029. 

Namun, perjalanan Arya Wedakarna tidak selalu berjalan mulus. Pernyataan-pernyataannya mengenai identitas, agama, budaya, dan Bali beberapa kali menimbulkan kontroversi. Pada 2024, Badan Kehormatan DPD RI menjatuhkan sanksi pemberhentian terhadap dirinya dari keanggotaan DPD periode tersebut karena pelanggaran etik. 


Masa Kecil dan Latar Belakang Keluarga Arya Wedakarna

Arya Wedakarna lahir di Denpasar, Bali, pada 23 Agustus 1980. Ia merupakan putra Shri Wedastera Suyasa dan Suwitri Suyasa. Latar belakang keluarga dan lingkungan Bali kemudian menjadi salah satu unsur yang kuat dalam perjalanan pemikiran serta aktivitas publiknya. 

Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Cipta Dharma Denpasar dan selesai pada 1992. Ia kemudian bersekolah di SMP Negeri 3 Denpasar dan SMA Negeri 1 Denpasar. Pendidikan menengahnya diselesaikan pada 1998. 

Sejak usia muda, Arya sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia publik. Ia pernah menjadi model atau cover boy majalah Aneka pada 1997. Pengalaman tersebut menjadi pintu masuknya ke dunia hiburan sebelum akhirnya lebih serius menekuni bidang akademik, organisasi dan politik. 


Dari Model hingga Dunia Hiburan

Arya Wedakarna fbi

Sebelum dikenal sebagai politisi, Arya Wedakarna memiliki pengalaman di dunia hiburan dan penyiaran.

Ia pernah bekerja sebagai penyiar radio di Cassanova FM Denpasar pada 1996–1998 dan kemudian di Indika FM pada 2000–2001. Ia juga pernah bergabung dalam grup vokal FBI bersama Indra Bekti dan Roy Jordy.

Pengalaman sebagai penyiar, model, dan entertainer menjadi bagian menarik dari perjalanan hidupnya. Latar tersebut membentuk kemampuan komunikasi publik yang kemudian banyak digunakan ketika ia memasuki dunia organisasi, akademik dan politik.  


Pendidikan Tinggi dan Gelar Doktor Arya Wedakarna

Setelah menyelesaikan SMA, Arya melanjutkan pendidikan di STMT Trisakti Jakarta dengan bidang Manajemen Transportasi Udara dan lulus pada 2002.

Ia kemudian menempuh pendidikan Ilmu Pemerintahan di Universitas Satyagama Jakarta. Data riwayat hidup yang tercatat di MPR menunjukkan pendidikan tersebut berlanjut hingga jenjang magister dan doktor. Gelar doktor diperolehnya pada 2007.  

Pencapaian akademiknya menjadi salah satu bagian penting dalam profil Arya. Ia dikenal sebagai doktor ilmu pemerintahan pada usia relatif muda dan kemudian mendapat perhatian karena menjadi rektor di usia muda. Sejumlah sumber menyebut penghargaan MURI terkait rekor doktor dan rektor termuda tersebut.  


Arya Wedakarna Menjadi Rektor Universitas Mahendradatta

Karier Arya di bidang akademik berkembang cukup cepat. Ia dipercaya menjadi Rektor Universitas Mahendradatta pada periode 2009–2014. Posisi tersebut membuatnya tidak hanya dikenal sebagai aktivis dan figur publik Bali, tetapi juga sebagai akademisi.

Universitas Mahendradatta sendiri kemudian tetap menjadi salah satu institusi yang berkaitan erat dengan perjalanan akademiknya. Dalam berbagai kegiatan kampus, nama Arya masih tercatat sebagai bagian dari aktivitas akademik universitas.


Aktivitas Organisasi dan Ideologi Marhaenisme

Jauh sebelum menjadi senator, Arya aktif dalam berbagai organisasi. Salah satu bidang yang cukup menonjol adalah aktivitas yang berkaitan dengan Hindu, kebudayaan Bali, dan pemikiran Marhaenisme.

Ia tercatat pernah menjadi Ketua DPD PNI-Marhaenisme Provinsi Bali pada 2006–2014 dan kemudian Ketua DPP PNI-Marhaenisme pada 2014–2018.

Ia juga tercatat sebagai Presiden The Hindu Center of Indonesia sejak 2005 serta Presiden The Sukarno Center sejak 2009. Di organisasi Pasemetonan Agung Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori, ia pernah menjabat Sekretaris Jenderal.  

Keterlibatannya dalam organisasi tersebut memperlihatkan bahwa politik bagi Arya bukan hanya aktivitas elektoral. Ia juga membangun identitas politik melalui isu kebudayaan, Hindu, nasionalisme dan pemikiran yang dikaitkan dengan Marhaenisme.


Arya Wedakarna Masuk ke Senayan sebagai Anggota DPD RI

Arya Wedakakarna
Langkah besar dalam karier politik Arya terjadi pada Pemilu 2014 ketika ia terpilih sebagai anggota DPD RI dari daerah pemilihan Bali. Ia kemudian kembali terpilih untuk periode 2019–2024. Dalam pemilu tersebut, ia memperoleh 742.781 suara, menurut data profil DPD.  

Sebagai anggota DPD, Arya aktif menyuarakan berbagai persoalan yang berkaitan dengan Bali. Ia antara lain menyampaikan pandangan mengenai pemerintahan daerah, kebudayaan, kepentingan masyarakat Bali dan hubungan pusat-daerah.

Pada 2023, misalnya, ia menyampaikan harapan agar penjabat gubernur Bali yang menggantikan gubernur definitif berasal dari putra daerah dengan pertimbangan kondisi sosial dan kultur Bali.  


Perjalanan Politik Arya Wedakarna yang Diwarnai Kontroversi

Popularitas Arya Wedakarna juga tidak dapat dipisahkan dari sejumlah kontroversi. Salah satu yang paling besar terjadi pada awal 2024 ketika pernyataannya mengenai pakaian dan penggunaan penutup kepala oleh pekerja di Bandara I Gusti Ngurah Rai menjadi viral.

Pernyataan tersebut mendapat kritik karena dinilai bernuansa diskriminatif terhadap kelompok agama tertentu. Kasus tersebut kemudian memicu laporan kepada aparat penegak hukum.  

Tidak lama setelah itu, Badan Kehormatan DPD RI memutuskan memberhentikan Arya dari keanggotaan DPD karena dinilai melakukan pelanggaran etik. Keputusan tersebut diumumkan dalam sidang paripurna DPD RI pada Februari 2024.  

Peristiwa tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan politiknya. Ia kehilangan posisi sebagai senator pada periode 2019–2024, meskipun proses politik elektoralnya tetap berjalan.


Tetap Maju dalam Politik dan Kembali Menjadi Figur Publik

Arya Wedakakarna Anggota DPDRI
Kontroversi tersebut tidak serta-merta mengakhiri aktivitas politik Arya. Dalam Pemilu 2024, namanya kembali muncul sebagai calon anggota DPD RI dari Bali. Data riwayat hidup MPR bahkan mencatat masa jabatan DPD untuk Arya sebagai 2024–2029.   Perjalanan ini menunjukkan karakter politik Arya yang cukup kuat. Ia mampu mempertahankan basis dukungan politik sekalipun menghadapi kontroversi dan sanksi etik.

Dalam beberapa tahun terakhir, ia juga tetap aktif menyampaikan aspirasi masyarakat Bali dan terlibat dalam berbagai persoalan sosial. Pada 2026, misalnya, ia diberitakan turun langsung menemui masyarakat dalam persoalan hukum dan adat di Tabanan.


Aktivitas Organisasi Arya Wedakarna hingga 2026

Jejak organisasi Arya juga terus berkembang. Ia pernah menjadi Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Marhaenis pada 2020–2025. Data riwayat hidup MPR juga mencatat keterlibatannya dalam UPF PBB sebagai Duta Besar pada 2016–2026.  

Pada Juni 2026, sejumlah pemberitaan menyebut Arya terpilih sebagai Ketua Umum Gerakan Pemuda Marhaenisme periode 2026–2031 melalui Kongres XI organisasi tersebut di Bali.  

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas Arya tidak berhenti pada politik parlementer. Ia tetap mempertahankan peran dalam organisasi dan gerakan yang berkaitan dengan gagasan Marhaenisme.


Kehidupan Pribadi Arya Wedakarna

Dalam kehidupan pribadi, Arya Wedakarna menikah dengan Ida Ayu Ketut Juni Supari. Pernikahan tersebut berlangsung pada 2017. Sejumlah pemberitaan menyebut pasangan ini memiliki dua anak. detikcom

Kehidupan keluarga Arya relatif tidak menjadi pusat pemberitaan dibandingkan aktivitas politik dan organisasinya. Perhatian publik terhadap dirinya lebih banyak tertuju pada posisi politik, aktivitas sosial, pandangan mengenai Bali serta berbagai pernyataan yang disampaikannya di ruang publik.


Arya Wedakarna dan Identitas Bali

Arya Wedakakarna Bali
Salah satu ciri paling kuat dalam perjalanan Arya Wedakarna adalah konsistensinya membawa identitas Bali dalam aktivitas publik.

Ia sering berbicara tentang kebudayaan Bali, masyarakat adat, Hindu, otonomi daerah dan kepentingan Bali. Dalam konteks politik, pendekatan tersebut membuat dirinya memiliki karakter yang berbeda dibandingkan banyak politisi nasional.

Namun, pendekatan yang sangat kuat terhadap identitas lokal juga menjadi sumber kritik ketika pernyataan mengenai kebudayaan Bali dianggap melewati batas antara pelestarian budaya dan penghormatan terhadap keberagaman masyarakat Indonesia.

Di sinilah perjalanan Arya menjadi menarik: ia berada pada persimpangan antara politik identitas, kebudayaan, nasionalisme, agama, akademik dan politik elektoral.


Arya Wedakarna Sosok yang Sulit Dipisahkan dari Kontroversi

Arya Wedakarna adalah figur publik dengan perjalanan yang tidak sederhana. Dari model majalah dan penyiar radio, ia berkembang menjadi akademisi, doktor ilmu pemerintahan, rektor, aktivis organisasi, politikus dan anggota DPD RI.

Kontroversi Arya Wedakakarna
Kariernya menunjukkan kemampuan membangun jaringan dan mempertahankan eksistensi di berbagai ruang. Namun, perjalanan tersebut juga dibayangi sejumlah kontroversi, terutama terkait pernyataan mengenai agama, identitas dan masyarakat di luar Bali.

Karena itu, melihat Arya Wedakarna hanya sebagai politisi atau hanya sebagai tokoh kontroversial tentu tidak cukup. Ia merupakan figur yang terbentuk dari persilangan pendidikan, budaya Bali, organisasi Hindu, Marhaenisme, akademik dan politik.

Terlepas dari berbagai perdebatan mengenai dirinya, satu hal jelas: Arya Wedakarna telah menjadi salah satu figur Bali yang perjalanan politik dan kehidupan publiknya cukup berpengaruh serta terus menarik perhatian nasional.

Sabtu, 03 Oktober 2026

Biografi Sarwo Edhie Wibowo: Jenderal RPKAD, Tokoh 1965, hingga Pahlawan Nasional

Sarwo Edhie wibowo

Biografi Sarwo Edhie Wibowo: 

Jenderal RPKAD, Tokoh 1965, hingga Pahlawan Nasional


Siapa Sarwo Edhie Wibowo?

Nama Sarwo Edhie Wibowo tidak bisa dilepaskan dari sejarah militer dan politik Indonesia pada dekade 1960-an. Ia dikenal sebagai salah satu perwira penting Angkatan Darat, terutama ketika menjabat Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), satuan yang kemudian berkembang menjadi Kopassus.

Kariernya berlangsung melewati sejumlah fase penting sejarah Indonesia: masa pendudukan Jepang, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, pergolakan politik 1965, pemerintahan Orde Baru, hingga kiprahnya di bidang diplomasi dan pemerintahan.

Pada 10 November 2025, nama Sarwo Edhie kembali menjadi perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepadanya. Penghargaan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025. Pemerintah mencantumkan Sarwo Edhie sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Tengah dengan bidang perjuangan bersenjata.


Lahir di Purworejo dan Tumbuh dalam Keluarga Pegawai

Sarwo Edhie Wibowo lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 25 Juli. Sumber-sumber sejarah mencatat perbedaan tahun kelahirannya, yakni 1925 dan 1927. Sejumlah sumber kontemporer yang membahas pemberian gelar Pahlawan Nasional 2025 menggunakan tahun 1927.

Ia merupakan putra pasangan Raden Kartowilogo dan Raden Ayu Sutini. Keluarganya memiliki latar belakang pegawai pemerintahan pada masa kolonial.

Sejak muda, Sarwo Edhie sudah menunjukkan ketertarikan terhadap dunia kemiliteran. Ia juga mempelajari bela diri, termasuk silat. Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, ia masuk dalam pendidikan militer Pembela Tanah Air (PETA).

Setelah Indonesia merdeka, Sarwo Edhie bergabung dengan kekuatan bersenjata republik yang kemudian berkembang menjadi bagian dari TNI Angkatan Darat. Dari sinilah perjalanan panjangnya sebagai prajurit dimulai.


Meniti Karier dari Divisi Diponegoro

Pada masa awal kemerdekaan, Sarwo Edhie bertugas di lingkungan Divisi Diponegoro. Ia tercatat pernah menjadi Komandan Batalion pada periode 1945–1951 dan kemudian Komandan Resimen Divisi Diponegoro pada 1951–1953.

Kariernya terus berkembang. Setelah bertugas di lingkungan Divisi Diponegoro, ia mendapat penugasan di Akademi Militer Nasional sebagai Wakil Komandan Resimen pada 1959–1961.

Pada 1962, ia masuk ke lingkungan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat atau RPKAD. Dua tahun kemudian, Sarwo Edhie dipercaya menjadi Komandan RPKAD.

Posisi tersebut kemudian menempatkannya di pusat salah satu episode paling menentukan dalam sejarah politik Indonesia.


Sarwo Edhie dan Peristiwa 30 September 1965

Nama Sarwo Edhie paling sering dikaitkan dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965. Saat gerakan tersebut terjadi, Sarwo Edhie menjabat sebagai Komandan RPKAD. Setelah penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira Angkatan Darat pada 1 Oktober 1965, RPKAD berada dalam operasi militer untuk merebut kembali sejumlah fasilitas strategis di Jakarta.

Sarwo Edhie wibowo
Kajian sejarah dari Universitas Negeri Yogyakarta mencatat keterlibatan pasukan Sarwo Edhie dalam operasi penanganan Gerakan 30 September, termasuk pergerakan pasukan ke sejumlah wilayah di Jawa Tengah.

Perannya pada periode tersebut membuat Sarwo Edhie menjadi salah satu figur militer paling menonjol dalam perubahan politik Indonesia setelah 1965.

Namun, pembahasan mengenai Sarwo Edhie dan 1965 tidak berhenti pada operasi militer terhadap Gerakan 30 September. Periode setelahnya juga diwarnai penangkapan, kekerasan dan pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dituduh terkait dengan PKI maupun organisasi yang dianggap berafiliasi dengannya.

Karena itu, sejarah peran Sarwo Edhie pada 1965 juga menjadi bagian dari perdebatan historiografis mengenai kekerasan massal 1965–1966. Sumber akademik mencatat adanya korban dalam skala besar, sementara narasi resmi negara pada periode berbeda memberikan penekanan yang berbeda mengenai konteks dan tanggung jawab para aktor. Dengan demikian, peran Sarwo Edhie perlu dilihat dalam konteks sejarah yang lebih luas, bukan hanya sebagai operasi militer penumpasan Gerakan 30 September.


Karier Militer Setelah 1965

Setelah periode 1965, posisi Sarwo Edhie dalam struktur militer berubah. Pada 1967 ia ditugaskan sebagai Panglima Kodam II/Bukit Barisan di Sumatra Utara. Tidak lama kemudian, ia dipindahkan ke Papua dan dipercaya sebagai Panglima Kodam XVII/Cenderawasih.

Sarwo Edhie wibowoPerpindahan tersebut menandai fase baru dalam kariernya. Ia tidak lagi hanya dikenal sebagai komandan pasukan khusus di lapangan, tetapi mulai menjalankan tanggung jawab sebagai pimpinan komando wilayah.

Pada 1970, Sarwo Edhie kemudian dipercaya menjadi Gubernur Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Jabatan tersebut menempatkannya pada posisi penting dalam pendidikan dan pembentukan calon-calon perwira TNI.

Karier Sarwo Edhie dari Militer ke Diplomasi

Karier Sarwo Edhie kemudian bergerak ke luar struktur komando militer. Ia ditunjuk sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan. Penugasan diplomatik tersebut menjadi salah satu babak penting dalam perjalanan kariernya setelah meninggalkan posisi komando militer.

Setelah itu, Sarwo Edhie juga pernah menjadi Inspektur Jenderal Departemen Luar Negeri.

Pada dekade 1980-an, ia kembali mendapat posisi di pemerintahan. Ia dipercaya memimpin Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7), lembaga yang pada masa Orde Baru memiliki peran dalam pelaksanaan pendidikan dan pembinaan Pancasila.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa karier Sarwo Edhie tidak berhenti di dunia kemiliteran. Setelah menjadi komandan pasukan khusus, ia masuk ke bidang pendidikan militer, diplomasi dan birokrasi pemerintahan.


Sarwo Edhie Wibowo dan Keluarga SBY

Nama Sarwo Edhie juga dikenal luas karena hubungan keluarganya dengan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sarwo Edhie adalah ayah dari Kristiani Herrawati, yang lebih dikenal sebagai Ani Yudhoyono. Ani kemudian menikah dengan SBY.

Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat bahwa ketika Sarwo Edhie menjabat Gubernur Akabri di Magelang, SBY merupakan taruna tingkat akhir Akabri dan pernah melapor kepadanya dalam kapasitas sebagai Gubernur Akabri.

Sarwo Edhie juga merupakan ayah dari Pramono Edhie Wibowo, yang kemudian meniti karier hingga menjadi Kepala Staf Angkatan Darat.

Hubungan keluarga tersebut membuat nama Sarwo Edhie tetap muncul dalam perjalanan politik Indonesia pada periode setelah dirinya meninggalkan dunia militer.


Akhir Hayat  Sarwo Edhie Wibowo

Memasuki usia lanjut, Sarwo Edhie tidak lagi berada di garis depan kehidupan militer maupun pemerintahan.

Ia meninggal dunia di Jakarta pada November 1989. Sejumlah sumber mencatat tanggal 9 November 1989, sementara kajian sejarah lain mencantumkan 10 November. Karena terdapat perbedaan pencatatan tanggal dalam sejumlah sumber, tanggal tersebut perlu dicantumkan dengan kehati-hatian.

Ia kemudian dimakamkan di tanah kelahirannya, Purworejo, Jawa Tengah.


Sarwo Edhie Wibowo Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional pada 2025

Lebih dari tiga dekade setelah wafat, pemerintah memberikan pengakuan tertinggi negara kepada Sarwo Edhie. Pada 10 November 2025, bertepatan dengan Hari Pahlawan, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada Sarwo Edhie Wibowo. Penganugerahan tersebut berdasarkan Keppres Nomor 116/TK/Tahun 2025 yang ditetapkan pada 6 November 2025.

Pemerintah mengategorikan jasa Sarwo Edhie dalam bidang perjuangan bersenjata. Pemberian gelar tersebut sekaligus menghidupkan kembali pembahasan mengenai perjalanan panjang Sarwo Edhie: dari prajurit PETA, perwira Divisi Diponegoro, Komandan RPKAD, Pangdam, Gubernur Akabri, diplomat, hingga pejabat pemerintahan.


Warisan Sejarah Sarwo Edhie Wibowo yang Masih Diperdebatkan

Sarwo Edhie Wibowo meninggalkan warisan sejarah yang kompleks. Di satu sisi, ia tercatat sebagai perwira penting dalam operasi militer setelah Gerakan 30 September 1965 dan memiliki perjalanan panjang dalam mempertahankan serta menjalankan tugas negara. Peran tersebut menjadi salah satu dasar pengakuan negara melalui pemberian Gelar Pahlawan Nasional pada 2025.

Di sisi lain, keterlibatannya dalam operasi setelah 1965 membuat namanya juga terkait dengan periode kekerasan politik dan pembunuhan massal yang hingga kini menjadi salah satu babak paling kontroversial dalam sejarah Indonesia modern.

Karena itu, memahami Sarwo Edhie Wibowo tidak cukup hanya dengan melihat daftar jabatan dan penghargaan yang diterimanya. Perjalanan hidupnya merupakan bagian dari sejarah Indonesia yang mempertemukan militer, politik, perubahan kekuasaan, diplomasi dan dinamika sosial dalam satu periode yang sangat menentukan.

Rabu, 30 September 2026

Biografi Suyudi Ario Seto: Dari Reserse, Kapolda Banten, Kepala BNN hingga Kapolri

 

Biografi Suyudi Ario Seto


Biografi Suyudi Ario Seto: 

Dari Reserse, Kapolda Banten, Kepala BNN hingga Calon Kapolri


Siapa Suyudi Ario Seto?

Nama Suyudi Ario Seto menjadi perhatian publik pada 2026 setelah Presiden Prabowo Subianto mengusulkannya sebagai calon Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia atau Kapolri untuk menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Sebelum masuk bursa calon Kapolri, Suyudi dikenal sebagai perwira tinggi Polri dengan latar belakang panjang di bidang reserse. Ia pernah bertugas di berbagai satuan Polda Metro Jaya, Bareskrim Polri, sejumlah kepolisian daerah, hingga menduduki jabatan Kapolda Banten.

Kariernya kemudian memasuki babak baru ketika Presiden Prabowo melantiknya sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 25 Agustus 2025. Setahun lebih kemudian, namanya kembali berada di pusat perhatian setelah Presiden mengusulkannya sebagai calon Kapolri.

Per 1 Oktober 2026, Komisi III DPR RI telah menyetujui Suyudi sebagai calon Kapolri setelah menjalani uji kelayakan dan kepatutan. Hasil tersebut selanjutnya dibawa ke Rapat Paripurna DPR untuk proses berikutnya.


Lahir di Jakarta dan Lulusan Akpol 1994

Suyudi Ario Seto lahir di Jakarta pada 14 Juli 1973. Ia kemudian memilih jalur kepolisian dan menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol). Suyudi merupakan bagian dari lulusan Akpol tahun 1994.

Pendidikan kepolisiannya kemudian berlanjut melalui Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 2003. Ia juga mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) yang diselesaikannya pada 2018. Pendidikan tersebut menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya sebelum menduduki sejumlah jabatan strategis di lingkungan Polri.


Karier Dimulai dari Dunia Reserse

Jika melihat perjalanan kariernya, reserse merupakan bidang yang paling kuat dalam rekam jejak Suyudi.

Ia mengawali pengabdiannya di lingkungan Polda Metro Jaya sebagai Kanit II Resmob. Dari sana, ia mendapat berbagai penugasan sebagai perwira reserse di wilayah hukum Jakarta dan sekitarnya.

Suyudi pernah menjadi Kapolsek Metro Pasar Minggu, Kapolsek Metro Tanah Abang, serta Kapolsek Metro Penjaringan. Ia juga pernah dipercaya sebagai Kasat Reskrim di Polres Metro Jakarta Selatan, Polres Metro Tangerang Kota, dan Polres Metro Jakarta Barat.

Pengalaman tersebut membuat sebagian besar fase awal karier Suyudi bersentuhan langsung dengan penyelidikan, penyidikan, dan penanganan berbagai perkara kriminal.


Dari Kapolres hingga Masuk Bareskrim

Karier Suyudi semakin berkembang ketika dipercaya menduduki sejumlah posisi pimpinan kewilayahan.

Pada 2014, ia menjadi Kapolres Majalengka. Setahun kemudian, ia dipercaya memimpin Polres Bogor. Setelah itu, ia menjadi Kapolresta Bogor Kota dan kemudian Kapolres Metro Jakarta Pusat pada 2017.

Setelah menjalani berbagai penugasan kewilayahan, Suyudi kembali ke tingkat pusat. Ia dipercaya menduduki sejumlah posisi di Bareskrim Polri, termasuk Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Wadirtipideksus) dan Wakil Direktur Tindak Pidana Siber (Wadirtipidsiber).

Dua posisi tersebut memperluas pengalamannya dari kriminal konvensional ke perkara ekonomi dan kejahatan berbasis teknologi.


Suyudi Ario Seto Menjadi Wakapolda Metro Jaya

Pada 2023, Suyudi kembali mendapatkan penugasan penting di daerah. Ia dilantik sebagai Wakapolda Metro Jaya pada April 2023.

Posisi tersebut mempertemukannya kembali dengan wilayah yang menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya sejak awal sebagai perwira reserse. Sebagai Wakapolda, ruang lingkup tanggung jawabnya menjadi lebih luas karena tidak hanya berkaitan dengan penyidikan, tetapi juga pengelolaan organisasi dan berbagai persoalan keamanan di wilayah hukum Polda Metro Jaya.


Suyudi Ario Seto sebagai Kapolda Banten pada 2024

Pada 2024, Suyudi dipercaya menjadi Kapolda Banten. Ia memperoleh pangkat Inspektur Jenderal Polisi atau jenderal bintang dua.

Penugasan sebagai Kapolda menjadi salah satu tahap penting dalam karier seorang perwira tinggi Polri. Sebelumnya, Suyudi lebih banyak dikenal melalui pengalaman reserse dan jabatan operasional. Sebagai Kapolda, tanggung jawabnya mencakup keseluruhan fungsi kepolisian di tingkat provinsi.

Namun, masa tugasnya sebagai Kapolda Banten tidak berlangsung lama. Pada 2025, ia mendapat penugasan sebagai Pati Bareskrim Polri dalam rangka penugasan di luar struktur sebelum kemudian dipercaya memimpin BNN.


Suyudi Ario Seto Memimpin BNN di Tengah Perang Melawan Narkotika

Pada 25 Agustus 2025, Presiden Prabowo Subianto melantik Suyudi Ario Seto sebagai Kepala BNN RI, menggantikan Komjen Pol Marthinus Hukom.

Pengangkatan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 118/TPA Tahun 2025. Setelah dilantik, Suyudi memimpin lembaga yang memiliki mandat utama dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan serta peredaran gelap narkotika.

Pada September 2025, pangkat Suyudi dinaikkan menjadi Komisaris Jenderal Polisi, atau jenderal bintang tiga.

Di bawah kepemimpinannya, BNN melaporkan berbagai capaian pemberantasan narkotika. Dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR pada Februari 2026, BNN menyampaikan bahwa sepanjang 2025 lembaga tersebut mengungkap 773 kasus tindak pidana narkotika dengan 1.214 tersangka. Barang bukti yang disita antara lain 4,01 ton sabu, 2,19 ton ganja, dan 1,2 ton ketamin.


Ario Seto Mendapat Gelar Doktor Kehormatan

Tidak hanya berkutat pada tugas operasional, Suyudi juga memperoleh pengakuan akademik.

Pada 31 Januari 2026, Universitas Tarumanagara mengukuhkannya dengan gelar Doktor Kehormatan atau Doctor Honoris Causa di bidang Ilmu Hukum.

Dalam orasi ilmiahnya, Suyudi membahas hubungan antara narkotika, keamanan, dan masa depan Indonesia. Ia menekankan bahwa persoalan narkotika tidak cukup ditangani melalui pendekatan represif, tetapi juga membutuhkan pencegahan, rehabilitasi, penegakan hukum, dan kerja sama berbagai pihak.


Dari Kepala BNN Menjadi Calon Kapolri

Babak paling penting dalam perjalanan karier Suyudi terjadi pada akhir September 2026.

Presiden Prabowo mengirimkan Surat Presiden Nomor R57/Pres/09/2026 kepada DPR pada 30 September 2026. Surat tersebut berisi usulan pemberhentian Kapolri Listyo Sigit Prabowo sekaligus pengangkatan calon Kapolri baru.

Nama yang diajukan adalah Komjen Pol Suyudi Ario Seto.

Pada 1 Oktober 2026, Komisi III DPR menggelar uji kelayakan dan kepatutan terhadap Suyudi. Dalam proses tersebut, ia memaparkan visi dan misi terkait arah kepemimpinan Polri, dengan penekanan pada transformasi, profesionalisme, serta hubungan kepolisian dengan masyarakat.

Setelah proses tersebut selesai, Komisi III DPR menyatakan persetujuan secara aklamasi. Namun, pada saat artikel ini ditulis, proses tersebut belum sama dengan pelantikan sebagai Kapolri karena masih harus melalui Rapat Paripurna DPR dan tahapan kenegaraan berikutnya.


Rekam Jejak yang Didominasi Penegakan Hukum

Jika dirangkum, perjalanan Suyudi Ario Seto memperlihatkan pola karier yang cukup jelas. Ia tumbuh dari dunia reserse, kemudian memperoleh pengalaman sebagai pimpinan kepolisian di berbagai wilayah, masuk ke Bareskrim, menjadi Wakapolda, Kapolda, kemudian memimpin lembaga nasional di luar struktur Polri melalui BNN.

Riwayat tersebut membuat pengalaman Suyudi tidak hanya berada pada satu bidang. Ia memiliki pengalaman penyidikan, kepemimpinan kewilayahan, penanganan kejahatan ekonomi dan siber, manajemen organisasi kepolisian, serta pemberantasan narkotika.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam proses pencalonannya sebagai Kapolri pada 2026.


Menanti Babak Baru di Tubuh Polri di bawah Kepemimpinan Suyudi Ario Seto

Suyudi Ario Seto kini berada pada titik penting dalam perjalanan kariernya. Dari seorang perwira reserse di Polda Metro Jaya, ia berkembang menjadi Kapolres, pejabat Bareskrim, Wakapolda Metro Jaya, Kapolda Banten, Kepala BNN, dan kemudian calon Kapolri.

Perjalanan tersebut berlangsung lebih dari tiga dekade.

Jika proses pengangkatan sebagai Kapolri berlanjut sesuai tahapan kenegaraan, tantangan berikutnya akan jauh lebih luas. Jabatan tersebut tidak hanya menuntut kemampuan penegakan hukum, tetapi juga kemampuan mengelola organisasi kepolisian nasional, menjaga kepercayaan publik, menghadapi perkembangan kejahatan digital dan transnasional, serta memastikan pelayanan kepolisian berjalan di seluruh Indonesia.

Dengan latar belakang panjang di bidang reserse dan pengalaman memimpin BNN, Suyudi memasuki fase baru dalam perjalanan pengabdiannya. Per 1 Oktober 2026, statusnya masih calon Kapolri yang telah disetujui Komisi III DPR, menunggu tahapan persetujuan berikutnya.

Sabtu, 12 September 2026

Profil Desak Made Rita Kusuma Dewi: Dari Taman Kota Singaraja hingga Jadi Ratu Speed Dunia

Profil Desak Made Rita

Kalau bicara soal panjat tebing Indonesia, nama Desak Made Rita Kusuma Dewi sulit untuk dilewatkan. Atlet asal Buleleng, Bali, ini bukan cuma punya koleksi medali yang panjang. Ia juga menjadi gambaran bagaimana mimpi seorang anak dari daerah bisa tumbuh menjadi prestasi di panggung dunia.

Profil Desak Made Rita bermula dari cerita yang sebenarnya sederhana. Rita lahir di Buleleng pada 24 Januari 2001. Saat masih duduk di kelas 2 SD, ia diajak bibinya yang juga atlet panjat tebing ke Taman Kota Singaraja. Awalnya hanya ikut melihat dan mencoba memanjat. Tidak ada rencana besar di baliknya.

Namun, dari percobaan kecil itu, Rita justru menemukan olahraga yang kemudian menjadi bagian penting dalam hidupnya. Ia memilih nomor speed, disiplin yang menuntut atlet memanjat dinding secepat mungkin. Bagi Rita, tantangan mengejar waktu justru menjadi bagian paling menarik dari panjat tebing.


Anak Buleleng yang Tumbuh Bersama Panjat Tebing

Rita berasal dari Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Ia merupakan putri kedua dari I Dewa Putu Sekar dan Jro Komang Sari Artini. Keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan Rita, terutama ketika ia masih membangun karier sebagai atlet muda.

Sang ayah pernah menyambut langsung kepulangan Rita setelah Asian Games Hangzhou 2022. Momen itu memperlihatkan sisi lain seorang juara dunia: di balik sorotan podium dan bendera Merah Putih, tetap ada keluarga yang menunggu di rumah.

Rita juga dikenal cukup dekat dengan orang tuanya. Di sela kesibukan latihan maupun ketika berlibur, ia tetap menyempatkan diri berkomunikasi dengan keluarga.

Menariknya, panjat tebing bagi Rita bukan sekadar pekerjaan. Olahraga ini bermula sebagai aktivitas yang ia coba sejak kecil, kemudian berubah menjadi hobi, dan akhirnya menjadi jalan hidup.

Bahkan ketika berbicara kepada generasi muda, Rita tidak menggambarkan panjat tebing sebagai olahraga yang hanya cocok untuk atlet profesional. Pada Indonesia Sports Summit 2025, ia justru mengajak anak muda mencoba panjat tebing sebagai hobi maupun jalan menuju prestasi.


Dari Dua Emas Junior hingga Juara Dunia

Bakat Rita mulai terlihat ketika ia memasuki kompetisi junior. Pada Kejurnas Kelompok Umur 2018 di Riau, ia meraih dua medali emas, masing-masing pada nomor Speed World Record Youth A Putri dan Boulder Youth A Putri.

Setelah itu, kariernya bergerak semakin cepat.

Rita meraih emas PON XX Papua 2021 untuk Bali. Pada tahun yang sama, ia mulai tampil di Piala Dunia dan langsung menunjukkan bahwa dirinya mampu bersaing dengan pemanjat terbaik dunia.

Tahun 2022 menjadi fase penting lainnya. Rita mengoleksi medali perunggu dari seri Piala Dunia di Villars, Swiss, dan Chamonix, Prancis. Ia juga meraih perak pada Kejuaraan Asia di Seoul.

Kemudian datang tahun 2023.

Di Kejuaraan Dunia Panjat Tebing IFSC di Bern, Swiss, Rita membuat lompatan besar. Ia menaklukkan Emma Hunt di final dan menjadi juara dunia nomor speed putri dengan catatan 6,49 detik.

Gelar tersebut sekaligus membawanya mendapatkan tiket menuju Olimpiade Paris 2024. BBC bahkan memasukkan Rita dalam daftar 100 Women 2023, sebuah pengakuan yang membuat namanya semakin dikenal secara global.


Emas Asian Games dan Panggung Olimpiade

Masih pada 2023, Rita kembali menjadi sorotan ketika meraih emas nomor speed putri Asian Games Hangzhou. Ia mengalahkan wakil tuan rumah China, Deng Lijuan, dengan catatan 6,364 detik.

Medali itu bukan sekadar tambahan dalam lemari penghargaan. Rita menunjukkan bahwa dirinya mampu tampil di bawah tekanan besar, terutama ketika harus menghadapi atlet tuan rumah di hadapan publik China.

Setahun kemudian, nama Rita kembali berada di panggung terbesar olahraga dunia: Olimpiade Paris 2024.

Ia mampu mencapai babak perempat final dan finis di posisi keenam. Dalam perjalanan tersebut, Rita mencatat personal best 6,369 detik. Ia hanya terpaut sangat tipis dari Deng Lijuan dalam perebutan tiket semifinal.

Bagi seorang atlet muda, pengalaman Olimpiade tersebut menjadi bagian penting dari proses pendewasaan. Medali memang belum berhasil dibawa pulang, tetapi Rita mendapatkan pengalaman menghadapi tekanan kompetisi paling tinggi di dunia.


Tahun 2026 menjadi babak baru Desak Made Rita

Pada World Climbing Asia Championship di Meishan, China, Rita meraih medali emas sekaligus mencetak rekor Asia speed putri dengan waktu 6,07 detik.

Tidak berhenti di sana. Rita kembali menjadi juara pada World Climbing Series Krakow 2026 di Polandia. Di final, ia mencatatkan waktu 6,54 detik dan mengalahkan Natalia Kalucka.

Setelah Krakow, Rita kembali naik podium tertinggi di Chamonix, Prancis. Konsistensi tersebut memperlihatkan bahwa gelar juara dunia 2023 bukanlah kebetulan.

Pada 2026, Rita bahkan disebut sebagai atlet nomor satu dunia pada nomor speed putri. Ia juga tengah melanjutkan pendidikan S2 Pendidikan Olahraga di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), sehingga kehidupan Rita tidak hanya berputar di antara dinding panjat dan arena pertandingan.


Desak Made Rita bukan Sekadar Atlet, tapi Role Model

Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Rita.

Ia tidak datang dari pusat olahraga dunia. Ia tumbuh dari Buleleng, Bali. Bahkan awal perkenalannya dengan panjat tebing terjadi di sebuah dinding panjat di taman kota.

Namun, ia membuktikan bahwa tempat seseorang memulai perjalanan tidak menentukan seberapa tinggi ia bisa melangkah.

Rita juga tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ketika berbicara kepada anak muda, ia mendorong mereka untuk tidak takut mencoba panjat tebing. Baginya, olahraga tersebut bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana: hobi. Dari hobi, kalau dijalani dengan serius, disiplin, dan konsisten, prestasi bisa mengikuti.

Inilah yang membuat prestasi Desak Made Rita menjadi menarik untuk dibicarakan bukan hanya dari jumlah medali. Di balik setiap podium ada proses panjang: latihan, rasa lelah, kekalahan, tekanan, dan keberanian untuk kembali memanjat.


Daftar Prestasi Desak Made Rita Kusuma Dewi

Beberapa pencapaian penting Rita antara lain:

  • Dua emas Kejurnas Kelompok Umur 2018.
  • Emas PON XX Papua 2021.
  • Perunggu IFSC World Cup Villars 2022.
  • Perunggu IFSC World Cup Chamonix 2022.
  • Perak Kejuaraan Asia 2022.
  • Juara Dunia Speed Putri 2023 di Bern, Swiss.
  • Emas Asian Games Hangzhou 2022 yang berlangsung pada 2023.
  • Perak IFSC World Cup Jakarta 2023.
  • Perak IFSC World Cup Salt Lake City 2023.
  • Tampil di Olimpiade Paris 2024 dan finis keenam.
  • Juara World Cup Krakow 2025.
  • Juara World Climbing Series Krakow 2026.
  • Juara World Climbing Series Chamonix 2026.
  • Emas Kejuaraan Asia 2026 di Meishan sekaligus rekor Asia 6,07 detik.


Desak Made Rita dari Singaraja untuk Indonesia

Mungkin tidak ada yang menyangka ketika Rita kecil mencoba memanjat dinding di Taman Kota Singaraja, aktivitas itu akan membawanya begitu jauh.

Kini, setiap kali ia berdiri di bawah dinding speed climbing, waktunya hanya beberapa detik. Tetapi perjalanan menuju titik tersebut berlangsung bertahun-tahun.

Itulah bagian paling menarik dari profil Desak Made Rita.

Ia mengajarkan bahwa menjadi hebat bukan berarti selalu menang sejak awal. Menjadi hebat berarti terus berlatih ketika belum dikenal, tetap mencoba ketika pernah kalah, dan berani memasang target yang lebih tinggi setelah berhasil mencapai satu puncak.

Dari Buleleng, Rita telah menunjukkan bahwa Indonesia punya alasan untuk bermimpi besar di dunia panjat tebing.

Dan bagi generasi muda, kisahnya memberikan pesan yang sederhana: tidak masalah dari mana kita memulai. Yang penting adalah seberapa serius kita menjalani perjalanan menuju puncak.

Jumat, 07 Agustus 2026

Profil Abdul El-Sayed: Dokter Muslim Progresif yang Berpeluang Cetak Sejarah di Senat AS

Profil Abdul El-Sayed

Abdul El-Sayed menjadi salah satu sosok yang paling banyak diperbincangkan dalam politik Amerika Serikat setelah memenangkan pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk kursi Senat dari negara bagian Michigan. Politikus berusia 41 tahun itu berhasil mengalahkan anggota Kongres dari kubu moderat, Haley Stevens, meski lawannya mendapat dukungan dari petinggi Partai Demokrat serta kelompok lobi pro-Israel, American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), yang menggelontorkan dana kampanye hampir 32 juta dolar AS.

Putra pasangan imigran asal Mesir ini dikenal sebagai figur progresif yang mewakili sayap kiri Partai Demokrat. Selama kampanye, El-Sayed mengusung berbagai kebijakan yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat, mulai dari layanan kesehatan universal, reformasi sistem imigrasi, hingga penghentian bantuan militer Amerika Serikat kepada Israel tanpa syarat. Ia juga pernah menyerukan pembubaran Badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE), sebuah usulan yang memicu perdebatan luas di kalangan publik AS.

Kemenangan El-Sayed mendapat dukungan dari tokoh-tokoh progresif ternama, seperti Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez (AOC). Meski bukan anggota Democratic Socialists of America, ia mengadopsi sejumlah gagasan yang sejalan dengan kelompok tersebut. Slogan kampanyenya, "Uang keluar dari politik. Uang masuk ke kantong Anda. Layanan kesehatan universal," mencerminkan fokusnya pada pengurangan pengaruh uang dalam politik dan peningkatan kesejahteraan warga.

Di luar dunia politik, El-Sayed memiliki rekam jejak akademik dan profesional yang kuat. Ia merupakan seorang dokter yang meraih gelar magister dari Universitas Columbia sebelum menyelesaikan doktor di bidang epidemiologi kesehatan masyarakat di Universitas Oxford. Pengalamannya juga mencakup jabatan sebagai Direktur Departemen Kesehatan, Layanan Kemanusiaan, dan Urusan Veteran Wayne County serta Direktur Kesehatan Masyarakat Kota Detroit.

Langkah El-Sayed menuju Senat masih harus melewati pemilihan umum pada November mendatang, ketika ia akan berhadapan dengan kandidat Partai Republik, Mike Rogers. Jika berhasil menang, ia tidak hanya mempertahankan dominasi Partai Demokrat di Michigan—yang belum pernah mengirim senator dari Partai Republik sejak 1994—tetapi juga akan mencatat sejarah sebagai senator Muslim pertama di Amerika Serikat.

Meski demikian, pencalonannya juga menuai kontroversi, terutama terkait sikapnya terhadap Israel. Penolakannya terhadap bantuan militer tanpa syarat kepada Israel memicu perbedaan pendapat, termasuk di kalangan komunitas Yahudi di Michigan. Bagi pendukungnya, El-Sayed menawarkan arah baru bagi Partai Demokrat yang lebih progresif. Namun bagi para pengkritiknya, sejumlah gagasan yang diusung dinilai terlalu radikal untuk politik arus utama Amerika Serikat.

Kamis, 26 Februari 2026

Profil Dedi Mulyadi, dari Bupati Purwakarta hingga Gubernur Jawa Barat

Profil Dedi Mulyadi

BANDUNG – Nama Dedi Mulyadi sudah lama menjadi bagian dari panggung politik Jawa Barat. Jauh sebelum menduduki kursi gubernur, sosok yang akrab disapa Kang Dedi atau KDM itu telah membangun karier politik dari tingkat daerah hingga nasional.

Kini, Dedi Mulyadi memimpin Jawa Barat bersama Wakil Gubernur Erwan Setiawan untuk periode 2025-2030. Keduanya resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada 20 Februari 2025.

Kepemimpinan Dedi menarik perhatian karena gaya politiknya yang berbeda. Ia kerap tampil langsung di tengah masyarakat, mengunjungi desa, sekolah, pasar, hingga kawasan yang menghadapi persoalan sosial dan lingkungan.

Lahir di Subang dan Tumbuh dari Keluarga Sederhana

Dedi Mulyadi lahir di Subang pada 12 April 1971. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat sosoknya sebagai pemimpin yang membumi dan dekat dengan masyarakat. Kedekatan tersebut bahkan membuatnya populer dengan sapaan "Bapa Aing".

Dedi Mulyadi HMI

Latar belakang kehidupannya tidak berasal dari keluarga elite politik. Sejumlah catatan mengenai masa mudanya menggambarkan Dedi tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Ahmad Suryana, merupakan mantan prajurit yang kemudian bekerja di sektor perkebunan setelah tidak lagi aktif di militer.

Dedi kemudian menempuh pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Purwakarta. Semasa muda, ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan pernah menjadi Ketua HMI Cabang Purwakarta. Ia juga tercatat aktif dalam organisasi pekerja, termasuk SPSI dan KSPSI.

Masuk Politik dari DPRD Purwakarta

Karier politik Dedi dimulai dari legislatif. Pada Pemilu 1999, ia terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Purwakarta melalui Partai Golkar untuk periode 1999-2004.

Belum menyelesaikan masa jabatannya sebagai anggota DPRD, Dedi kemudian maju dalam Pilkada Purwakarta 2003 sebagai calon wakil bupati mendampingi Lily Hambali. Ia akhirnya menjabat Wakil Bupati Purwakarta periode 2003-2008.

Pengalaman tersebut menjadi pijakan penting bagi perjalanan politiknya. Pada Pilkada 2008, Dedi maju sebagai calon Bupati Purwakarta berpasangan dengan Dudung B Supardi dan memenangkan kontestasi.

Lima tahun kemudian, ia kembali memenangkan Pilkada Purwakarta dan menjabat sebagai bupati untuk periode kedua, 2013-2018.

Gaya Kepemimpinan di Purwakarta

Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta
Saat memimpin Purwakarta, Dedi dikenal memiliki pendekatan pembangunan yang cukup khas. Ia banyak mengangkat identitas budaya Sunda dalam kebijakan daerah sekaligus mendorong pembangunan ruang publik dan infrastruktur.

Gaya tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas politik Dedi. Ia tidak hanya mengandalkan komunikasi formal pemerintahan, tetapi juga membangun citra sebagai pemimpin yang dekat dengan masyarakat.

Karakter tersebut terus terbawa ketika Dedi memasuki panggung politik Jawa Barat dan nasional.

Pernah Gagal di Pilgub Jabar 2018

Setelah dua periode memimpin Purwakarta, Dedi mencoba naik ke level provinsi. Pada Pilgub Jawa Barat 2018, ia maju sebagai salah satu kandidat gubernur.

Namun, langkah tersebut belum berhasil. Dedi kemudian kembali ke politik nasional dengan menjadi anggota DPR RI.

Di tingkat partai, Dedi juga pernah menduduki posisi penting sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat.

Pengalaman sebagai kepala daerah dan legislator membuat rekam jejak politik Dedi semakin panjang. Ia memiliki pengalaman di tiga level sekaligus: legislatif daerah, eksekutif daerah, dan legislatif nasional.

Kembali Bertarung pada Pilgub Jabar 2024

Dedi tidak menyerah setelah kegagalan pada 2018. Pada Pilgub Jawa Barat 2024, ia kembali maju sebagai calon gubernur, kali ini berpasangan dengan Erwan Setiawan.

Pasangan Dedi-Erwan memperoleh 14.130.192 suara atau 62,22 persen suara sah. KPU Jawa Barat kemudian menetapkan keduanya sebagai pasangan terpilih untuk periode 2025-2030.

Kemenangan tersebut menjadi titik balik besar dalam perjalanan politik Dedi. Setelah pernah gagal merebut kursi gubernur enam tahun sebelumnya, ia akhirnya berhasil memimpin provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia tersebut.

Dilantik Jadi Gubernur Jawa Barat

Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat
Dedi Mulyadi dan Erwan Setiawan resmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat pada 20 Februari 2025.

Sejak saat itu, gaya kepemimpinan Dedi kembali menjadi sorotan. Aktivitasnya di lapangan dan media sosial membuat komunikasi pemerintah daerah terasa lebih personal.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat sendiri menggambarkan Dedi sebagai pemimpin yang terbuka, tegas, dan dekat dengan masyarakat.

Gaya tersebut kemudian melahirkan istilah "Gubernur Konten", sebuah julukan yang muncul karena tingginya aktivitas Dedi dalam menyampaikan kegiatan pemerintahan melalui media sosial.

Namun, popularitas digital juga membawa konsekuensi. Setiap pernyataan dan tindakan Dedi relatif mudah menjadi konsumsi publik sehingga kebijakannya kerap menjadi perdebatan.

Pendidikan Jadi Salah Satu Fokus Utama

Pada masa kepemimpinannya, pendidikan menjadi salah satu isu yang banyak mendapat perhatian Dedi.

KDM Kang Dedi Mulyadi
Ia menegaskan pemerintah memiliki kewajiban memastikan anak-anak Jawa Barat memperoleh akses pendidikan, terutama mereka yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah.


Pada Juni 2026, Dedi menyatakan bahwa prioritas pemerintah adalah memastikan tidak ada anak yang putus sekolah karena persoalan daya tampung maupun biaya.

Dedi juga menekankan pendidikan karakter. Dalam program Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Pancawaluya 2026, ia menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian penting dari pendidikan pelajar Jawa Barat.

Tidak hanya itu, pemerintahannya juga mendorong revitalisasi pendidikan vokasi agar lebih sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar kerja.

Lingkungan dan Persoalan Sampah

Isu lingkungan menjadi warna lain dalam kepemimpinan Dedi.

Salah satu perhatian besarnya adalah persoalan sampah di kawasan perkotaan, khususnya Bandung Raya. Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 2026 mulai mendorong pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Regional Legok Nangka sebagai salah satu solusi pengelolaan sampah sekaligus sumber energi.

Dedi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat sejak tingkat sekolah. Pada Juli 2026, Pemprov Jabar menyiapkan kebijakan yang mewajibkan pelajar SMA dan SMK memungut serta memilah sampah sebagai bagian dari pembelajaran IPA.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya dipandang sebagai persoalan infrastruktur, tetapi juga sebagai persoalan perilaku dan pendidikan.

Menggabungkan Ekonomi dan Ekologi

Dalam sejumlah kesempatan, Dedi juga menyampaikan gagasan pembangunan yang menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan perlindungan lingkungan.

Ia mendorong pengembangan industri, pariwisata, dan sumber daya manusia dengan tetap memperhatikan aspek ekologis. Dalam pandangannya, pembangunan ekonomi tidak semestinya mengorbankan lingkungan dalam jangka panjang.

Pandangan serupa terlihat ketika ia berbicara mengenai pembangunan di Papua. Dedi mengingatkan agar pembangunan tidak mengorbankan alam dan budaya masyarakat adat.

Pemimpin yang Mengandalkan Komunikasi Langsung

Salah satu ciri paling menonjol dari Dedi adalah cara berkomunikasi dengan masyarakat.

Ia kerap menggunakan bahasa yang sederhana dan langsung. Aktivitas turun ke lapangan juga menjadi bagian penting dari cara membangun komunikasi politiknya.

Bagi pendukungnya, pendekatan tersebut membuat gubernur terlihat lebih dekat dan mudah ditemui. Namun, gaya komunikasi yang sangat terbuka juga membuat setiap pernyataan Dedi mudah mendapat perhatian dan kritik publik.

Karena itu, tantangan Dedi bukan hanya menjalankan kebijakan, tetapi juga memastikan popularitas personal berjalan seimbang dengan kualitas tata kelola pemerintahan.

Kepuasan Publik dan Tantangan ke Depan

Popularitas Dedi tercermin dalam survei Indikator Politik Indonesia yang dipublikasikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada Februari 2026. Survei yang dilakukan terhadap 800 responden di 27 kabupaten/kota mencatat tingkat kepuasan terhadap kinerja Dedi sebagai gubernur mencapai 95,5 persen. Angka tersebut merupakan hasil survei pada 30 Januari-8 Februari 2026 dan dipublikasikan oleh Pemprov Jabar.

Meski demikian, angka kepuasan bukan berarti seluruh persoalan Jawa Barat telah selesai.

Provinsi dengan penduduk besar seperti Jawa Barat masih menghadapi persoalan kompleks, mulai dari kemacetan, sampah, ketimpangan wilayah, kualitas pendidikan, pengangguran, tekanan lingkungan, hingga kebutuhan infrastruktur.

Dedi Mulyadi

Dedi kini berada pada fase penting dalam karier politiknya. Setelah berhasil melewati kegagalan Pilgub 2018 dan akhirnya memenangkan Pilgub 2024, ia harus membuktikan bahwa gaya kepemimpinan yang populer di masyarakat juga mampu menghasilkan perubahan yang terukur.

Perjalanan Dedi Mulyadi menunjukkan transformasi seorang aktivis daerah menjadi kepala daerah yang memiliki pengaruh politik lebih luas. Dari DPRD Purwakarta, Wakil Bupati, Bupati dua periode, politisi nasional, hingga akhirnya menjadi Gubernur Jawa Barat.

Kini, tantangan terbesarnya bukan lagi sekadar memenangkan pemilu, melainkan memastikan popularitas tersebut berubah menjadi kinerja pemerintahan yang konsisten, pelayanan publik yang lebih baik, dan pembangunan Jawa Barat yang mampu bertahan dalam jangka panjang.